Memudarnya Kegigihan Wartawan

Saya tertegun membaca sebuah berita online baru-baru ini. Judul beritanya menarik. Sayangnya, data yang disajikan minim sekali. Padahal, data menjadi bahan urgen untuk penulisan berita.

Data itulah yang membuat sebuah tulisan semakin menarik. Sebuah karya jurnalistik tanpa diperkuat data bagai sayur tanpa garam.

Berita omongan atau cangkeman saat ini sudah tidak begitu menarik. Tidak layak diterbitkan. Dalam kasus tertentu berita cangkeman bisa menarik. Asal narasumbernya tokoh nasional atau selebritis terkenal.  

Saya masih sering membaca berita teman-teman wartawan yang tidak disertai data. Padahal, berita itu sebenarnya sangat menarik. Namun, jadi tidak menarik. Karena datanya tidak ada. Atau minim data.

Tulisan minim data karena penulisnya memang tidak menggalinya. Bisa karena malas. Bisa juga tidak berhasil menembus narasumber pemilik data. Disinilah kelemahannya.

Gaya penulisan berita dengan struktur 5W +1H harus dipegang teguh oleh setiap wartawan. H pada rumus itu adalah How. Artinya bagaimana. Inilah titik klimaks pada sebuah tulisan. Tanpa how tulisan akan terasa hambar. Tidak menarik.

Menulis sebuah berita tidak jauh berbeda dengan menulis sebuah cerita sastra. Bedanya, tulisan satra bukan hasil jurnalistik. Tidak ada proses wawancara dan penelusuran data. Namun, sisi penulisannya hampir sama. Ada alurnya. Ada klimaksnya. Dan, yang terakhir ada solusi atas problematika yang tengah ditulis. 

Jangan sampai sebuah karya jurnalistik itu mengambang. Tidak pakai alur. Tidak menyajikan data.Tanpa memberikan solusi apapun.

Sebuah polemik yang ditulis dalam sebuah berita harus disertai data. Data yang empiris dan akurat. Ini sangat penting.

Wartawan adalah orang yang terlatih. Mereka harus mahir menggali data. Mahir melakukan lobi. Bahkan, sebelum data tersebar di masyakat luas, wartawan sudah memilikinya. Sudah menganalisis data itu.

Saat data sudah tersiar luas di masyarakat, wartawan sudah melakukan hal lain. Itulah bedanya wartawan dengan masyarakat biasa. Selangkah di depan.

Saya melihat, akhir-akhir ini kegigihan wartawan dalam menggali data kian pudar. Mereka cenderung menerima apa saja yang dikatakan narasumber. Padahal, wartawan harus memiliki insting ini : cek and balance.

Jangan menelan mentah semua ucapan narasumber. Analisis terlebih dulu pernyataannya. Jika benar, baru jadikan sebuah tulisan. Inilah insting yang harus ada pada semua wartawan. Insting seperti itu harus benar-benar diasah. Agar karya jurnalistik semakin bagus.

Keberadaan media komunikasi seperti Whatsapp membuat informasi beredar dengan mudah. Siapa saja bisa mengabarkan. Namun, wartawan tidak boleh terlena dengan kondisi ini. Sebab, ini bisa membunuh kreatifitas wartawan.

Wartawan yang sudah kehilangan kreatfitas biasanya mengandalkan berita rilisan. Berita yang sudah jadi.

Boleh kah? Boleh.

Tapi berita rilis bukanlah produk jurnalistik. Tidak dilakukan melalui proses jurnalistik. Kenapa saya katakan demikian. Produk jurnalistik adalah hasil dari proses jurnalistik. Yakni, wawancara. Hasil wawancara itulah yang dituangkan dalam sebuah tulisan. Itulah produk jurnalistik.

Mengandalkan rilis itu bisa menjadi penyakit mematikan bagi ruh jurnalistik. Sebab, insting ketajaman berfikir para wartawan akan hilang. Mereka malas berikir cara mendapatkan data. Malas menembus narasumber.

Wartawan baru terus bermunculan seiring banyaknya media online. Namun, kegigihan wartawannya untuk menggali data masih kurang.

Wartawan bukan profesi buangan. Artinya, profesi orang yang tidak diterima dimana-mana lalu jadi wartawan. Atau orang yang bosan dengan pekerjaan tertentu lalu jadi wartawan.

Wartawan adalah profesi bergengsi. Mereka adalah orang-orang dengan kualifikasi tertentu. Memiliki banyak talenta. Bisa wawancara, menembus narasumber, bisa melobi, dan bisa menulis berita. Kemampuan itu tidak dimiliki oleh profesi lain.

Wartawan tidak boleh cengeng. Wartawan adalah orang tahan banting. Siap bekerja dalam tekanan. Siap dikejar deadline. Mereka adalah manusia pejuang yang siap berlaga. Maka, teruslah menggali data. Data itulah ruh dari sebuah informasi yang layak dijadikan berita. (Nurkozim)

 

Sekretaris PWI Bojonegoro

   

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer