Jarak Pangkas Rigid Beton

 Dalanku saiki wes apik lur….! Dalanmu piye…?

Begitu ungkapan salah satu nitizen Bojonegoro di salah grup facebook. Tulisan itu disertai dengan foto jalan cor yang baru jadi. Masih mulus. Sir.

Itulah Bojonegoro saat ini. Tengah dalam gempita pembangunan. Tidak hanya jalan, jembatan, gedung, saluran air, taman, hingga trotoar juga dibangun.

Lihatlah jalanan Bojonegoro kota, dengan trotoar barunya. Begitu indah. Apalagi saat malam hari, mirip Jogjakarta.

Saya teringat 4 tahun lalu. Ketika pembangunan belum begitu merata. Terutama jalan. Saat pulang kampung halaman di Lamongan bagian selatan, saya kerap lewat Kedungadem. Dari Bojonegoro ke Kedungadem sejatinya tidak membutuhkan waktu lama. Hanya 1 jam perjalanan. Namun, waktu tempuhnya bisa mencapai dua jam. Dengan mobil.

Kenapa bisa sampai dua jam perjalanan? Anda sudah tahu jawabannya. Jalannya tidak bagus. Saat musim hujan jalanan itu penuh lubang. Lebar dan dalam. Membuat mobil tidak bisa melaju kencang. Apalagi saat malam. Penerangannya minim.

Namun, tidak selamanya begitu. Ada saat-saat jalan yang saya lintasi itu mulus dan nyaman. Yakni, menjelang Lebaran. Setiap menjelang Lebaran semua jalanan berlubang itu ditutup. Diaspal baru. Jadilah jalan itu bagus. Mungkin pemerintah tidak ingin mengecewakan pemudik. Mengingat menjelang Lebaran banyak yang mudik.

Tapi itu tidak lama. Hanya bertahan empat bulan. Setelah itu kembali seperti semua. Berlubang lagi. Akan bagus lagi saat menjelang Lebaran lagi. Tahun berikutnya. Saya hafal dengan ritme ini.

Sejak 2018 jalanan Bojonegoro dibangun rigid beton. Mulus sekali. Mirip jalan tol yang dibangun oleh pemerintah pusat.

Tidak perlu menunggu Lebaran jika ingin jalan nyaman. Kapan saja melintas, sudah nyaman. Dengan mobil, motor, sedan, odong-odong atau apa saja, tetap nyaman.

Jalan rigid beton memang lebih awet dibanding aspal. Apal memang nyaman dilintasi. Namun, tidak tahan lama. Butuh lebih banyak perawatan. Rigid beton bisa tahan hingga bertahun-tahun. Namun, tetap ada juga perawatan.

Tahun depan Pemkab Bojonegoro berencana membangun jalan desa. Jalan-jalan yang ada di desa-desa itu akan dibangun. Dengan anggaran dari pemkab. Skema yang digunakan bantuan keuangan desa (BKD). Desa akan diberikan uang. Uang itu digunakan membangun jalan desa.  

Alokasi anggarannya Rp 452 miliar. Dana itu akan digunakan membangun jalan di 252 desa dengan panjang 337 kilometer (km).

Waow….

Tahun depan, semua jalan, baik poros kecamatan maupun desa akan dibangun. Bisa dibayangkan betapa mulus akses jalan nantinya?

Tujuan pembangunan jalan itu adalah mempermudah akses. Akses apa saja. Ekonomi, pendidikan, hingga sosial. Semua akan mudah saat infrastruktur bagus. Jalan dan jembatan mulus.

Selama ini memang masih ada daerah yang terpencil. Namun, dengan bagusnya infrastruktur itu, daerah terpencil akan berkurang. Menjadi tidak terpencil. Karena mudah dijangkau.

Suatu saat nanti sekat antara kota dan desa semakin tipis. Dulu desa identik dengan jarak yang jauh dan jalannya jelek. Saat ini jarak bukan lagi masalah. Jalan yang bagus bisa memangkas jarak tempuh. Misalnya Bojonegoro-Kedungadem yang membutuhkan watu 1,5 jam, bisa ditempuh 1 jam. Itu semua berkat jalan yang mulus.

Belum lagi jembatan. Warga Luwihaji, Ngraho yang akan melintas ke Cepu biasanya menyeberang Bengawan Solo. Saat jembatan jadi, mereka hanya tinggal melintas di jembatan. Mungkin hanya butuh waktu 5 menit.

Jarak akan mempermudah semuanya. Jarak itu kini semakin pendek dengan bagusnya infrastruktur jalan.  Bahkan, bisa dikatakan suatu saat nanti kota dan desa tidak ada perbedaan.

Saat ini perbedaan kota dan desa memang masih ada. Namun, tidak begitu banyak. Bank sudah banyak berdiri di desa. Minimarket juga ada. Bahkan, juga mulai ada pom bensin di sejumlah desa.

Sebagai warga yang baik, kita patut berterimakasih pada pemerintah. Atas kinerja pembangunannya. Bisa dengan ucapan atau perbuatan.

Terimakasih…Bu Anna. (Nurkozim)

 

Sekretaris PWI Bojonegoro

 

 

 

Komentar

Postingan Populer