Tentang Kredibilitas Wartawan

 

Seorang teman berkata pada saya :

‘’Apakah wartawan itu kerjanya memeras orang? Kok banyak wartawan yang datang ke lembaga saya. Lalu bertanya ini dan itu. Ujung-ujungnya minta duit,’’ ujarnya suatu ketika.

Kebetulan teman saya itu adalah guru. Di sebuah SD. Di pelosok. Jaraknya dari kabupaten sekitar 60 kilomerer (km).

Pertanyaan seperti diatas tidak bisa dijawab dengan mudah : Ya atau tidak. Perlu penjelasan.

Tidak hanya itu. Juga perlu bukti. Buktinya yang nyata.

Sebagai insan pers saya ikut terpukul dengan pertanyaan seperti itu. Secara tidak langsung pertanyaan seperti itu juga tertuju pada saya.

Saya kadang bosan dengan pertanyaan seperti itu. Terlalu sering saya terima. Dari orang yang berbeda. Bahkan, kadang orang yang sama juga bertanya seperti itu. Meskipun mereka mengiyakan jawaban saya, tapi saya tahu jawaban dan penjelasan saya tidak bisa diterima langsung.

Mereka perlu bukti. Bukti bahwa tidak semua wartawan itu berperilaku buruk. Bukti bahwa insan pers itu sangat berjasa pada masyarakat. Memberikan wawasan. Mencerdaskan bangsa.

Teman saya itu memang memiliki pandangan yang tidak bagitu bagus pada profesi wartawan. Wajar. Dia sering bertemu langsung dengan oknum wartawan seperti itu. Menggertak, menakut-nakuti, memeras, minta duit, dan lainnya.

Tapi teman saya itu adalah penggemar acara berita di televisi. Dia selalu mengikuti perkembangan berita pemerintahan. Dari berbagai stasiun televisi.

Diakui atau tidak, secara tidak langsung teman saya itu menyukai produk pers, yakni berita.

Berita adalah karya seorang wartawan. Jadi, teman saya ini menyukai karya seorang wartawan.

Tapi anehnya dia tidak suka profesi wartawan. Produknya disukai, profesinya tidak disukai.

Menurut saya, itu semua karena kurangnya pemahaman. Mereka tidak paham tentang tugas mulia wartawan.

Mungkin juga karena dia tidak pernah bertemu dengan wartawan yang kredibel. Yang karyanya berkualitas. Yang beretika dalam menggali informasi. Santun dalam memberitakan. Bobot beritanya bagus.

Sebaliknya, yang dia temui adalah wartawan kelas teri. Suka menggertak. Tidak santun. Beritanya tidak berbobot. Menghakimi. Tendensius. Suka mencari kesalahan dan seterusnya.

Teman saya itu tidak salah. Yang salah adalah oknum wartawan itu. Yang suka menggertak. Yang suka minta duit. Main ancam.  

Wartawan seperti itu sebenarnya sudah melanggar kode etik wartawan. Saya yakin media yang menaungi si wartawan juga tidak karuan. Entah terdaftar di dewan pers atau tidak.

Baik wartawan maupun medianya saya yakin tak ada di daftar dewan pers. Lihat sendiri website resmi dewan pers.

Langkah paling mudah, memberikan penjelasan pada orang awab adalah dengan data dewan pers itu. Jika media dan nama wartawan ada di website dewan pers,  ya wartawan yang kredibel. Jika belum ada, ya wartawan itu belum kredibel.

Maka, si wartawan yang belum kredibel itu harus berusaha untuk kredibel. Caranya, ikut uji kompetensi wartawan.

Kita tidak bisa menjelaskan dari A sampai Z pada orang awam tentang mulianya profesi wartawan. Menunjukkan daftar dewan pers itu bagi saya sudah cukup. Sebagai langkah awal.

Selanjutnya, pelan tapi pasti kita berikan penjelasan. Lebih rinci.  

Saya yakin semua insan pers mengalami apa yang saya alami ini.

Insan pers adalah profesi mulia. Mari kita yakinkan pada masyarakat bahwa profesi ini benar-benar mulia. Bermartabat. Sama seperti profesi lainnya. (NURKOZIM)

 

Penulis adalah Sekretaris PWI Bojonegoro

 

 

 

Komentar

Postingan Populer